Aku tidak tahu ingin memulai dari mana. Intinya, semua berawal siang ini, di hari Jumat, tanggal 12 Agustus tahun 2011, di mana aku kembali ke Jogja untuk menghadiri acara buber gugus Carlisle (gugus ospek jurusan 2011), dan semua berawal di pintu keluar Stasiun Tugu, Yogyakarta.
Siang ini, sekeluaran aku dari gerbong kereta, tujuan berikutnya adalah Jogjatronik sedangkan aku tidak tahu naik jalur apa dan seberapa jauh. Handphoneku rusak dan aku berniat memperbaikinya di sana. Rencana dari rumah sih naik transjogja. Maka ketika keluar dari gerbong kereta, aku langsung mencari shelter transjogja terdekat. Sempat terbesit di pikiranku untuk naik becak saja. Toh, menikmati Jogja sambil naik becak pasti mengasyikkan.
Namun aku putuskan untuk mencari shelter dulu. Aku tanya kepada seorang petugas di sana. Maklum, aku belum pernah turun di Stasiun Tugu Yogyakarta. Kata petugas itu, shelter transjogja terdekat ada di Malioboro. Aku pikir Malioboro itu dekat jika untuk jalan kaki. Maka aku putuskan untuk tetap naik transjogja yang ada di shelter Malioboro. Dan kata petugas itu setelah aku tanya, jogjatronik dari stasiun kira-kira ongkosnya Rp10.000,-. So, semakin mantap saja naik transjogja.
Aku keluar dari pintu masuk stasiun. Dan cerita ini berawal ketika seorang bapak tua, lebih tepatnya seorang kakek, berdiri di dekat pintu masuk stasiun. Awalnya aku berjalan biasa saja hendak melewatinya, hingga kakek itu berjalan mendekatiku dan jarak kami semakin dekat, kemudian menawarkan jasa becak. Aku pikir aku akan menolaknya. Namun iseng-iseng aku tanya.
"Kalo ke jogjatronik berapa, pak?"
Sejenak bapak itu terlihat berpikir, "Lima ribu aja."
Dahiku mengernyit. Lima ribu? Nggak salah? Batinku. Lalu aku bandingkan dengan ongkos jika naik transjogja. Transjogja cuma Rp3.000,- saja.
"Tiga ribu aja gimana, pak?" tawarku.
Bapak tua itu mengiyakan saja dengan cepat. Maka aku dituntunnya menuju becak tuanya yang terparkir tak jauh dari pintu masuk stasiun.
Aku lega....
Ya, aku lega.
“Maaf ya, pak. Ndak papa kan kalau tiga ribu saja? Uang saya juga mepet untuk persediaan.”
Bapak itu langsung menyahut, “Ndak papa, mbak. Kalo benar-benar kepepet pun saya antar saja juga ndak papa.”
Aku bisa mendengar nada yang benar-benar ikhlas dari suara si bapak.
Kayuh demi kayuh terus berputar dari kaki bapak tua itu dan kami menuju Malioboro dahulu. Ya, jogjatronik memang melewati Malioboro. Aku akui, Malioboro memang tidak begitu jauh dari Stasiun Tugu, namun jika harus berjalan kaki... Hm, aku rasa aku terus bersyukur sepanjang jalan karena menerima tawaran bapak ini. Aku tak perlu jalan kaki di siang-siang begini, apalagi pas puasa di bulan Ramadhan ini.
Di sepanjang perjalanan, aku mengajak bapak itu mengobrol. Aku lupa bagaimana topik pembicaraan awal dan bagaimana pertanyaan pertamaku.
"Peminat becak banyak ya, pak?" seingatku itu pertanyaan pertamaku.
Bapak itu terlihat mendesah pasrah, "Wah, banyak apanya mbak. Sekarang transportasi yang lebih cepat banyak." begitu kira-kira terjemahan Bahasa Jawa yang bapak itu lontarkan.
Sepanjang obrolan memang si bapak terus menggunakan Bahasa Jawa. Dan aku berusaha menangkap maknanya di antara suara derum kendaraan yang bersahut-sahut tak mau kalah.
Aku tersenyum. Kurang lebih, percakapan kami seperti berikut ini meskipun tidak terlalu sama persis. Setidaknya garis besarnya aku dapat.
"Ada tawaran untuk saya juga sebenarnya, dari seorang teman jaman perjuangan dulu. Suatu hari dia datang dan melihat keadaan ekonomi saya masih seperti ini. Dia mengajak saya untuk ikut dengannya. Tapi saya tidak mau. Bagi saya, jabatan atau pangkat itu tak penting. Bagaimana kita hidup nyaman, itu yang lebih penting dari jabatan atau pangkat."
Aku melirik sedikit ke belakang, ke arah bapak itu, "Iya, pak. Dari pada kaya tapi hidupnya ndak tenang seperti Nazzarudin itu. Berarti bapak dulu pejuang kemerdekaan, ya?"
"Wo, iya. Saya ikut berperang untuk kemerdekaan. Pernah saya diburu Belanda. Teman-teman saya banyak yang mati. Jaman perang itu susah, mbak. Sekarang serba enak. Dulu kalau kita mau apa-apa harus usaha dan berjuang dulu. Jangan sampai ketahuan Belanda."
"Kakek saya juga seorang pejuang, pak."
"Sekarang sudah banyak yang meninggal, mbak. Indonesia sudah merdeka, sekarang mau apa-apa sudah enak. Dulu kita merebut kemerdekaan dengan susah payah."
Aku hanya mengangguk-angguk. Becak mulai memasuki Malioboro, dan aku sadar bahwa jarak Malioboro-Stasiun Tugu itu lumayan jauh jika berjalan kaki, khususnya untuk orang yang jarang jalan kaki seperti aku ini.
Di jalan ini banyak sekali bule-bule.
"Bule-bule juga banyak yang minat becak, pak?" tanyaku iseng.
"Enggak begitu minat, mbak. Sekarang mobil-mobil banyak. Dulu saya sempat diajak ngobrol-ngobrol sama seorang bule. Dia sudah bisa Bahasa Indonesia lancar. Kita ngobrol tentang jaman kemerdekaan dulu, tentang masa lalu. Ya kita ngobrol-ngobrol saja. Tapi saja tidak mau terlalu lama, saya harus bekerja."
Bapak itu terus bercerita, seolah-olah aku tak kuasa menengahinya.
"Dia cerita tentang negaranya. Presidennya juga wanita, namanya Helmina (red. aku lupa namanya secara pasti) dan katanya rambutnya kemerah-merahan. Waktu itu presiden sini juga wanita, Bu Megawati."
Aku hanya mengangguk-angguk. Kemudian si bapak bercerita lagi.
“Presiden-presiden sekarang tidak tahu bagaimana rasanya berjuang. Pak Soekarno dan Pak Soeharto itu, tahu secara pasti bagaimana merebut kemerdekaan ini. Jadi beliau-beliau bias ikut merasakan perjuangan ini. Sekarang, coba Tanya ke Bu Megawati. Bu Megawati nggak tahu jaman penjajahan dulu. Pak SBY juga. Anggota DPR dan MPR itu juga kebanyakan pada belum lahir, jadinya nggak tahu rasanya merebut kemerdekaan, rasanya berperang, rasanya kelaparan jaman penjajah. Mereka nggak tahu. Sekarang mereka tinggal enaknya saja. Indonesia sudah merdeka.”
Aku tersenyum kecut. Berarti itu termasuk ‘aku’.
Jalan Malioboro sudah terlewati dan kini dihadapkan pada sebuah perempatan lampu merah.
“Terus belok mana, mbak?”
Gubraaak… aku mulai was-was.
“Bapak ndak tahu jalan menuju jogjatronik?”
“Ndak tau, mbak.”
“Saya juga ndak tau, pak.”
“Tanya sama orang saja, ya?”
Becak menepi dan bertemu dengan dua orang tukang becak lain di ujung jalan Malioboro.
“Apa? Oper?” tanya seorang bapak penuh harap.
“Jogjatronik di mana, ya? Si bapak terlibat sebuah pembicaraan dengan dua bapak itu. Aku manut saja. Dan akhirnya becak melaju lagi.
Si bapak tersenyum lebar, “Saya tahu, mbak.”
Aku bias bernafas lega. Kami terus mengobrol sedangkan kendaraan-kendaraan juga masih terus mengobrol dengan keramaian.
“O iya, nama bapak siapa ya?” tanyaku, teringat bahwa aku belum tahu nama bapak ini setelah ngobrol banyak.
“Nama saya ada tiga, mbak.”
Aku mengerutkan kening, “Tiga? Kok bias tiga, pak?”
“Nama jaman saya muda dulu itu ‘King Kong’. Kalo nama kedua saya adalah Slamet. Hal itu dikarenakan orang tua asuh saya namanya Slamet.”
“O, jadi bapak pernah menjadi anak asuh?”
“Iya, mbak. Diasuh sama keluarga kaya namanya Pak Slamet. Orang tua saya nggak kuat menghidupi. Maklum, saudara ada banyak. Tapi setelah Pak Slamet meninggal, saya dikembalikan ke orang tua. Istrinya ndak mau membiayai lagi. Ya sudah, saya dikembalikan ke keluarga.”
“O….” aku mengangguk-angguk untuk yang kesekian kali. “Kalau nama ketiganya siapa, pak?”
“Nama ketiga adalah Purdiono. Itu nama saya sekarang.”
Aku mencatat nama itu lekat-lekat di kepalaku. Bahkan aku sempat memita bapak itu mengulang namanya. Nama itu pemberian ayahnya.
Akhirnya becak mendekati jogjatronik. Ya Allah, ternyata sampai jarak ini aku rasa adalah jarak yang tergolong jauh. Terbayang di kepalaku, peluh bapak ini aku bayar hanya dengan Rp3.000,- saja. Ya Allah….
“Sepertinya di depan itu, pak.” kataku.
Si bapak memelankan laju becaknya dan berhenti di dekat gedung jogjatronik. Aku memastikannya dengan bertanya kepada seorang bapak yang duduk tak jauh di trotoar.
“Jogjatronik, pak?”
Si bapak mengangguk, “Iya, mbak.”
Akhirnya aku turun dari becak dan mendekat si bapak tukang becak, kemudian membuka isi dompetku. Aku langsung ambil lembaran-lembaran uang di dalam dompet. Tanpa aku hitung, aku langsung menyerahkannya kepada si bapak. Aku pikir jumlahnya kurang lebih Rp14.000,- saja.
Bapak itu langsung terhenyak kaget begitu aku sodorkan uang itu.
“Maturnuwun….” ada getaran syukur di suaranya itu. Aku juga bisa melihat sirat gembira di bola mata tuanya itu.
“Sama-sama, pak. Saya juga terima kasih banyak.”
Aku nyaris berbalik pergi ketika bapak itu memanggilku.
“Mbak, saya ada sedikit pesan.”
Aku mendekat kepada si bapak, “Iya, ada apa bapak?”
“Jika sekeliling anda ribut, jangan ikut-ikut ribut. Diam saja dan jangan ikut campur keributan itu. Tenang saja.” si bapak berbicara dengan wajah yang lumayan serius.
Aku mengangguk saja.
Bapak itu menambahkan, “Jika ada pemilihan, ndak usah ikut pemilihan juga ndak papa. Yang penting jaga diri baik-baik. Tidak usah ikut-ikutan.”
Aku tersenyum menatap bapak tukang becak itu, “Iya, pak.”
Aku segera berpamitan setelah mengucap terima kasih sekali lagi kepada pejuang kemerdekaan yang sekarang menjadi tukang becak itu.
Yogyakarta, 12 Agustus 2011
10.22 WIB