Senin, 08 Agustus 2011

Sabar dan Tawakal



Amul hazn (tahun duka cita). Begitulah sejarah menyebutnya. Bermula dari wafatnya sang paman, Abu Thalib, yang merupakan tokoh penting kaum Quraisy. Tak ada yang berani menyakiti Nabi SAW saat itu karena sang paman selalu melindunginya. Tak lama kemudian, wafat pula Siti Khodijah, istri Nabi SAW, yang mempunyai peran besar dalam dakwah Islam, sebagai penyandang dana.

Sejak itu, mulailah kafir Quraisy menyiksa Nabi SAW. Siksaan keji datang dari Abu Jahal. Ketika beliau sedang bersujud di Masjidil Haram, pemimpin Quraisy yang jahat itu menuangkan kotoran unta ke punggung Nabi.

Demikian kejamnya Abu Jahal, tak ada seorang pun yang berani membersihkan punggung Nabi yang terkena najis. Hanya Fatimah, putri tercinta Rasulullah SAW yang membela ayahnya. Ia membersihkan punggung ayahnya sambil menangis. Pernah juga terjadi ketika Nabi SAW sedang salat, seorang kafir menjerat leher Nabi dan menyiramnya dengan debu sehingga beliau pulang ke rumah dengan penuh debu dan pasir.

Tapi yang paling memrihatinkan adalah ketika seluruh keturunan Bani Hasyim dan Abdul Muthalib (kakek Nabi) diasingkan. Mereka tidak disapa dan tidak boleh diajak bergaul. Kaum Quraisy yang lain juga dilarang untuk berdagang dengan keturunan Bani Hasyim. Akibatnya, puluhan keluarga menderita. Mereka banyak yang jatuh sakit dan kelaparan. Jerit tangis anak-anak kecil terdengar amat menyedihkan.Keadaan ini berlangsung selama tiga tahun. Kemudian Beliau memutuskan untuk pindah ke Thoif. Namun, penderitaan justru lebih dahsyat dari sebelumnya. Begitulah contoh penderitaan Nabi SAW dan para pengikutnya. Dalam keadaan tersiksa ini, Allah menguatkan hati orang-orang yang beriman melalui firman-Nya, ”Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan serta digoncangkan dengan bermacam cobaan sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, ’Bilakah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat,” (QS al-Baqarah: 214).



Dalam hal ini, Rasulullah SAW bersabda,”Tidak ada sesuatu yang lebih baik dan lebih luas (berkahnya) yang diberikan kepada seseorang melainkan kesabaran,” (HR Bukhori dan Muslim). Kesabaran itu dibagi menjadi beberapa hal. Pertama, sabar dalam beribadah. Karena kesibukan urusan duniawi, manusia sering melupakan ibadah kepada Allah SWT. Kadang kita kikir ketika diminta menginfakkan hartanya atau diminta mengeluarkan zakat dan ketakutan ketika diajak jihad (syiar Islam). Oleh karena itu, dibutuhkan kesabaran dalam beribadah baik sebelum, ketika dan sesudah melakukan ibadah.

Kedua, sabar dalam menghindari maksiat untuk menghindari maksiat pun dibutuhkan kesabaran dan kesungguhan. Sangat tidak mudah dan butuh perjuangan yang teguh dalam melawan godaan setan yang selalu mengajak maksiat. Terutama maksiat yang begitu mudah dilakukan seperti gibah, mengumpat, marah, bohong, dan lain-lain. Walaupun kodrat manusia adalah mahallul khotho’ wa nisan (manusia adalah tempat salah dan lupa), namun dengan kesabaran tinggi, akan meminimalisasi salah dan lupa.

Ketiga, sabar dalam menghadapi musibah. Sabar dalam beribadah kepada Allah dan dalam menghindari maksiat lebih sulit dilakukan dan lebih banyak pahalanya daripada sabar dalam menghadapi segala bentuk musibah. Sebab, sabar dalam beribadah kepada Allah dan dalam menghindari maksiat merupakan pilihan, sedangkan sabar dalam menghadapi musibah adalah keharusan.


Oleh:
Dra Hj Sechah Wal Afiah, Ketua Korda Fatayat NU Soloraya


Diambil dari:
http://www.solopos.com/2010/lifestyle/hikmah-ramadan/sabar-dan-tawakal-46072

1 komentar:

Unknown mengatakan...

salam ukhuwah wahai saudaraku, banyak hikmah yang bisa kita petik dan renungkan." Syukron jazakallah khoiron katsiron telah berbagi ilmu yang bermanfaat.

Posting Komentar