Kamis, 04 Agustus 2011

Ketika Perbedaan Menjadi Ukuran

Ketika kau berapresiasi kemudian mendapat punggung orang-orang, apa yang kau rasakan?
Ketika kau berapresiasi kemudian mendapat seruan kata-kata tak toleran, apa yang kau rasakan?
Ketika kau berapresiasi kemudian mendapat hinaan orang-orang, apa yang kau rasakan?

Bukankah kita ini satu?
Bukankah kita ini senaungan atap?
Hei, para mahasiswa! Seharusnya rasa kemanusiaan dan menghargai orang-orang yang berbeda itu adalah sebuah kontribusi yang luar biasa untuk negeri ini.
Mahasiswa wajib untuk saling menghargai dan bersama-sama memikul negara ini. Ya, memikul di atas bahu-bahu kita.
BERSAMA-SAMA, BUKAN SALING MEMANTATI!
:)

Menonjolkan satu kepentingan dari segelintir orang adalah tindakan tak manusiawi. Kita memang mahasiswa Indonesia yang berbeda-beda, namun sekiranya perbedaan itu adalah warna yang menghiasi lembar kanvas sejarah mahasiswa negeri ini. Kita boleh beda, namun misi dan visi tetap sama, yakni membela INDONESIA.

Kita ini SAMA! Kita berhak mendapat perlakuan yang SAMA. Di satu sisi sebuah warna disemangati, maka warna yang lain pun juga harus disemangati. Seperti pelangi. Di antara warna pelangi, tak ada yang paling mendominasi. Semua mempunyai bagian yang sama, semua mempunyai lebar tempat yang sama, semua mempunyai terang atau gelap yang sama.

INDONESIA BUKAN HANYA TERDIRI DARI SATU WARNA. Karena mempunyai banyak warna itulah kita menjadi spesial. Jika tujuan salah satu warna adalah merusak persatuan generasi Indonesia demi satu kepentingan, maka negara ini bisa berubah dari beradab ke biadab.

Tidak semua kemauan orang itu sama. Tidak semua kepentingan orang itu sama. Tidak semua prinsip orang itu sama. Kita terlahir berbeda-beda, maka sepantasnya kita juga menghargai perbedaan. Ingat itu.

Semoga kita, para mahasiswa Indonesia, bisa bersatu untuk membuat perbaikan besar demi kemajuan negeri kita yang tercinta ini.
:)

Salam damai.


Yogyakarta, 4 Agustus 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar